Melonjaknya Covid-19 di Kutim, Anggota DPRD Kutim Yan Soroti Dampak PJJ bagi Siswa

oleh -
Melonjaknya Covid-19 di Kutim, Anggota DPRD Kutim Yan Soroti Dampak PJJ bagi Siswa
Anggota DPRD Kutim Yan, S. Pd., Saat Ditemui Usai rapat paripurna ke 24 di Ruang Paripurna DPRD kabupaten Kutai Timur. Pada Rabu (07/07/2021). DETAK KUTIM.COM (Poto ADV.IVN)
PEMKAB KUTIM

.COM. SANGATTA –Anggota Yan, S. Pd., Angkat bicara terkait pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang digelar dimasa pandemi Covid 19 sekarang ini.

Yan’, memahami kesulitan yang dirasakan orang tua dan siswa, apalagi Proses Pendidikan jarak jauh (PJJ) tidak hanya menghilangkan kesempatan anak untuk belajar bersosialasi, juga kehilangan kesempatan berinteraksi dengan teman sebaya.

Ancaman lost generation akibat wabah sudah di depan mata, Memang sudah menjadi tugas Yan Ipui mendengar keluhan orang tua siswa. Apalagi saat ini dia dipercaya mewakili masyarakat duduk di DPRD Kutai Timur (Kutim).

Anggota Komisi D Yan mengatakan “Daerah-daerah hijau bisa dibuka dengan penerapan protokol kesehatan,” ungkapnya usai mengikuti rapat paripurna, Pada Rabu (07/07/2021).

Komisi yang membidangi masalah pendidikan ini, seringkali menjadi pos pengaduan warga, yang ingin pembelajaran tatap muka dimulai.

Lanjutnya Yan menyampaikan “Apalagi, masih banyak yang menyebabkan murid tak bisa mengakses internet,” ungkap mantan guru Sekolah Dasar (SD) di Telen, ini.

Yan merupakan salah satu anggota dewan yang vokal, menyuarakan dukungan PTM segera bergulir. Setelah beberapa kali Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, seolah memberikan lampu hijau pelaksanaannya di zona-zona hijau.

Terkait dengan ini, tentu dengan berbagai pertimbangan penting, Salah satunya lonjakan kasus Covid-19 di jauh menurun signifikan. Jika dibandingkan dengan Negara tetangga.

Terlebih kelompok yang dianggap rentan penularan Covid-19, yaitu tenaga guru di yang sudah 80 persen divaksinasi. Ia menyebut itu menjadi faktor penting bisa dilaksanakannya kegiatan PTM. Maka penuntasan vaksinasi hingga 100 persen, wajib hukumnya dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Berharap peserta didik lebih banyak berkegiatan di rumah ketika pemerintah menerapkan pembelajaran secara daring, tentunya hal seperti yang diharapkan, cenderung malah tidak bisa dikendalikan, berdasarkan pengakuan orang tua. Dan dirinya yang senantiasa memantau di lapangan.

 “Kalau di sekolah bisa dikendalikan, terpenting protokol kesehatannya dipertegas, ada simulasinya, dinas pendidikan juga mengakui sudah menyiapkan,” ungkapnya.

Kemudian, Berbicara siap tidaknya sistem pendidikan di yang beralih ke sistem daring. Dianggap Yan belum siap sama sekali. Kualitas mutu pendidikan yang masih rendah, sehingga PTM segera digulirkan menjadi salah satu jalan keluarnya. Karena tidak ada namanya tawar-menawar dalam pendidikan. Terlalu berani mempertaruhkan masa depan bangsa, meskipun masalah kesehatan tetap dikedepankan.

“Tapi ya ini pandangan saya, karena otoritas milik pemerintah. Semoga menjadi pertimbangan Pemerintah untuk melaksanakan PTM untuk daerah yang zona hijau,” tambahnya.

Apalagi Pembelajaran secara daring, kata Yan, banyak kekurangannya, “Motivasi belajar si anak tidak bisa dipantau langsung oleh pengajar. Ditambah pendalaman materi pelajaran yang tentunya sangat terbatas,” jelasnya

Dalam hal ini, penanaman karakteristik kepada anak yang seharusnya diterima di bangku sekolahan, seperti nilai kejujuran yang ditumbuhkan pada peserta didik. “Akibatnya orang tua mengeluh kalang kabut, mayoritas menghendaki segera dilakukan PTM,” Pungkasya. (ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *